Sabtu, 10 September 2022 Pendopo Rumah Eyang atau rumah kediaman Lurah Pakembinangun Pakem kembali kedatangan tamu spesial. Pasalnya rumah Suranto atau yang dikenal dengan nama Mbah Ranto Kresek ini kedatangan Drs. Subandriyo, M.Si selaku Mantan Kepala BPPTKG DIY.
Hadir pula di tempat itu Bambang P. dari BNPB Sleman, Kompol Ani Sulistyarini, S.Kom., M.H.Li selaku Kapolsek Pakem beserta para jajarannya, Panewu Pakem, Tri Winarno atau Mas Nano pegiat drone puncak Merapi, dan beberapa relawan Lingkar Merapi dari Tritis Purwobinangun Pakem, serta beberapa tokoh SATGANA CAKRA PMI Pakem.
Dalam pembukaan pembicaraannya, Subandriyo memaparkan bahwa letusan Merapi itu terus berubah-ubah tipenya. Tidak dapat ditentukan dengan pasti.
“Tanda-tanda bahwa Merapi mau meletus tidak bisa diinterpretasikan hanya dari seismiknya saja. Tetapi juga harus disinkronkan dengan data gas vulkanis yang meningkat, deformasi, survey micro gravity, serta parameter lainnya yang sebanding dengan itu. Deformasi inilah yg menjadi penentu kemana arah luncuran lava akan terjadi. Maka sejak itu saya memasang Electronic Distance Measurement (EDM). Sebenarnya saya sudah pensiun, dan ingin mengosongkan semua tentang Merapi dari otak saya. Namun karena ada laporan seismisitas VTA yang cukup signifikan ini, lebih dari seratus kali, kami jadi tergugah untuk men-trace kembali riwayat-riwayat letusan Merapi dahulunya. Belum pernah selama tiga puluh dua tahun saya bergelut dengan Merapi saya menjumpai gempa vulkanik dalam (VTA) sebanyak ini. Ini yang mengganggu pikiran saya. Dan ternyata ini sudah berlangsung selama satu bulan ini. Padahal tahun 2010 dahulu VTA hanya terjadi 80 kali” papar beliau.
Kemudian beliau memaparkan bahwa memang tidak mudah untuk menaik-turunkan status aktivitas gunung dari level ini ke level di atasnya atau di bawahnya.
“Pernah di tahun 2006, kami sempat menurunkan status Merapi dari Awas menjadi Siaga. Dan sehari setelah kami turunkan menjadi Siaga, ternyata awan panas yang paling besar justru muncul. Kalau tidak keliru tanggal 14 Juni 2006 itu. Nah, itu adalah suatu ‘kecelakaan’ bagi kami. Jadi demikian, sangat susah bagi kami untuk menentukan apakah statusnya akan dinaikkan atau diturunkan. Gunung Agung di Bali yang mana Bali adalah surga pariwisata contohnya. Pada bulan September saat itu, aktivitas seismik naik luar biasa. Sehingga kami naikkan menjadi Awas. Dan di bulan Desember baru terjadi letusan dan itu kecil ternyata. Namun selama tiga bulan itu, pemerintah provinsi Bali merugi sekitar sebelas trilyun, karena semua sektor pariwisata di Bali ditutup karena tingginya aktivitas gunung Agung yang kami tetapkan menjadi berstatus Awas. Pemerintah harus menanggung hidup para pengungsi Gunung Agung saat itu. Itu faktanya. Namun sebagai aparat yang ditunjuk oleh negara untuk bekerja sedemikian rupa untuk menyelamatkan nyawa manusia, kami lebih memilih selamatnya nyawa manusia, daripada terpuruknya perekonomian di saat terjadi bencana,” papar beliau.
Lebih lanjut beliau memaparkan mengapa terjadi gempa vulkanik dalam yang signifikan akhir-akhir ini dalam jangka waktu sebulan.
“Jadi ada yang disebut proses Intrusi dan Ekstrusi magma. Proses intrusi adalah masuknya magma ke kantong-kantong magma di bawah puncak. Seperti diketahui bahwa setelah gunung berapi itu meletus besar, maka perut gunung akan jadi kosong. Dan gunung api itu tidak perlu waktu lama untuk mengisi kantong-kantong magma yang kosong tadi. Adapun, material magma baru itu kaya akan gas vulkanis. Jadi hembusannya pasti besar. Makanya beberapa saat lalu sering terjadi freatik, karena itu magma baru yang kaya akan gas vulkanis. Nah, adapun gempa vulkanik dalam ini menjadi sering terjadi karena proses intrusi magma tadi. Dan setelah kami survey dengan micro gravity, magma yang baru itu tidak lebih dari tiga juta meter kubik. Dan mengapa gempanya sampai ratusan kali, itu karena magma yang terbaru ini miskin gas. Jadi nanti diperkirakan hanya akan menjadi erupsi efusif, tidak eksplosif. Dan karena magma ini miskin gas, lajunya menjadi lambat sekali. Sehingga gempa VTA terjadi banyak sekali. Nah, kemudian setelah kantong magma terisi, terjadilah proses keluarnya magma dari kantong-kantong tersebut, menjadi guguran dan hembusan. Itulah yang dinamakan proses esktrusi magma. Namun masih banyak gugurannya daripada DeGassing atau hembusan. Maka dipastikan erupsi eskplosif sulit terjadi,” papar beliau.
Mengakhiri perbincangannya, beliau memaparkan bagaimana agar penduduk bisa terhindar dari bencana gunung berapi.
“Harus sering diadakan pelatihan tanggap darurat bencana. Karena dengan begitu, otak kita akan mudah merekam bagaimana tindakan jika benar-benar terjadi bencana. Karena penanggulangan bencana itu menggunakan otak emosi, bukan ilmu pengetahuan. Semakin banyak pelatihan, akan semakin banyak emosi ini terlatih. Maka ketika terjadi bencana, otak kita akan me-recall rekaman pelatihan penanggulangan bencana tersebut agar menjadi efektif dan kita bisa tahu apa yang kita lakukan agar terindar dari bencana tersebut,” pungkas beliau. Acara diakhiri dengan foto bersama. (AW)